- / / : 081284826829

Menuju Pribadi Sukses dan Solusi Bagi Ummat

Oleh: ARDA DINATA
Email:
arda.dinata@gmail.com


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang lebih suka membicarakan orang lain daripada pribadinya sendiri. Entah itu berkaitan dengan hal kebaikan, lebih-lebih tentang keburukan dan kekurangan seseorang.


PADAHAL, di dalam pandangan Islam, bahwa ‘manusia’ itu yang menjadi pokok utama. Artinya setiap pribadi (manusia), lebih dahulu harus memperhatikan serta meneliti atas kejadian diri pribadinya sendiri. Dari apa dia dijadikan dan apa tujuan serta ke mana ia akan kembali. (Baca: QS. 86: 5-7).

Berawal dari pengenalan akan diri sendiri ini, tentu setiap orang dapat mengatur dan merencanakan dirinya, menuju tujuan awal manusia diciptakan ke dunia. Yakni agar sesuai dengan ketentuan-Nya.

Secara demikian, sudah seharusnya tiap pribadi itu mampu memformulasikan akan potensi dirinya. Dan setiap pribadi pada dasarnya mampu untuk menjadi sukses dan sebagai solusi bagi kehidupan dirinya dan lingkungan di mana dia berada.



Melalui tulisan yang terbatas ini, penulis mencoba membicarakan seputar mengenal diri sendiri; bagaimana cara menerima dan memahami diri sendiri; dan pembinaan pribadi yang bagaimana yang dapat menghantarkan seseorang menjadi sukses dan sebagai solusi bagi dirinya dan masyarakat lingkungannya.

Pribadi Manusia

Manusia adalah sebaik-baik makhluk Allah SWT. Makhluk yang paling sempurna atas kejadiannya, lebih baik dan sempurna akan kejadiannya dari makhluk-makhluk yang lain di dunia ini. (QS. 95:4).

Manusia itu dijadikan kesempurnaan jasmaninya (tubuh kasar) dan rohani (nyawa), serta dilengkapi tiga kekuatan An-Nafsun (jiwa) yang betul-betul mempunyai kekuatan luar biasa dalam mengarungi kehidupan ini. Konsekuensi logisnya, dengan jiwa inilah manusia dapat menguasai alam semesta. Asal saja terlebih dahulu manusia telah mengenal dan mengetahui pribadinya sendiri.

Pribadi merupakan faktor konstitusi moral dan bertanggung jawab atasnya. Faktor pribadi juga adalah menjadi titik tolak pendidikan diri sendiri. Dan bertujuan kembali kepada pribadi pula. Dengan kata lain, mengenal dan mendidik pribadi sendiri artinya mengawali kesadaran sebagai makhluk ciptaan, yang harus tahu diri kepada Dzat Tertinggi yang menciptakan dia. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengenal diri sendiri secara keseluruhan, maka kita mengenal Allah Yang Maha Pencipta.

Untuk mengenal diri sendiri, maka hendaknya setiap manusia berusaha mengetahui dan memahami sifat-sifat dari ketiga kekuatan dalam jiwa manusia itu. Yakni kekuatan syahwat, ghodhob, dan natiqoh.

Pertama, syahwat. Sifat dari syahwat ini adalah pemalas, merampas, angkara murka, tidak tahu malu, pengecut, mementingkan diri pribadi, bakhil, pasif, rakus, dll. Seandainya di dalam jiwa manusia kekuatan syahwat ini dapat menguasai setiap diri manusia, maka manusia tersebut akan malas. Yang pada akhirnya, pribadi seperti ini akan menjadi beban masyarakat.

Kedua, ghodhob. Sifatnya adalah takabur, ria, tidak mau mengalah, cari enak sendiri, kejam, penindas, pemeras, tidak mengenal belas kasihan, tidak menggunakan perhitungan, senang menjerumuskan orang lain untuk kepentingan pribadinya, dll. Sehingga, apabila kekuatan ghodhob ini menguasai diri manusia, maka manusia seperti ini akan menjadi takabur dan kejam. Dan sudah bisa dipastikan akan berakibat pada kekacauan di masyarakat.

Ketiga, natiqoh. Kekuatan ini bersifat tenang, suka menerima nasehat, suka menerima ilmu, suka kebijaksanaan, adil, penyayang, pemurah, dll.

Dengan penguasaan kekuatan natiqoh dalam jiwa seseorang dan sanggup bertahan sampai akhir hayatnya, maka akan menjadikan kehidupan yang bahagia di dalam masyarakat. Dan pribadi-pribadi seperti inilah yang menjadi solusi bagi dirinya dan lingkungannya. Selain itu, kekuatan natiqoh ini pula yang membedakan antara manusia dengan binatang. Permasalahannya, bagaimana caranya kita dapat menerima dan memahami kondisi pribadi sendiri?

Memahami Diri Sendiri

Ego manusia, kadangkala menyelimuti manusia untuk melakukan perlawanan-perlawanan terhadap usaha yang kita lakukan pada saat melakukan analisa-analisa terhadap kelemahan-kelemahan pribadi kita, seperti disarankan pada awal tulisan ini.

Padahal kita paham betul, bahwa modal utama mengendalikan hidup ini adalah berawal dari mengenal diri sendiri dengan pengamatan yang tepat. Orang yang tidak memperhatikan pribadinya sendiri, sama halnya dengan meniadakan dirinya sendiri. Perbuatan ini, tentu sama dengan menyingkirkan ‘aku’-nya sendiri.

Lagi pula perbuatan meremehkan pribadi sendiri tidaklah baik. Begitu juga sebaliknya, menjunjung tinggi pribadi manusia di luar realitasnya, akan mengaburkan manusia sendiri. Jadi, pribadi manusia itu harus didudukan pada kedudukan yang benar dan sewajarnya. Yakni sebagai makhluk yang diciptakan, makhluk yang diberi kesadaran, kehendak, perasaan, kebebasan untuk berbuat, sebagai prototyp kejadian (baca: model sejak awalnya) untuk melandasi kehidupan sosial dan pengabdian.

Selanjutnya, bermula dari adanya kualitas pribadi-pribadi manusia ini akan menentukan tinggi rendahnya nilai-nilai kehidupan masyarakat. Artinya nilai-nilai kehidupan masyarakat ini bersumber dan bertitik tolak pada nilai-nilai pribadi manusia sebagai fundamental kehidupan sosial.

Secara demikian, sikap melucuti dan meremehkan faktor pribadi manusia dengan menganggap negara (masyarakat) sebagai satu-satunya ‘pribadi’ yang ada, adalah sesuatu yang tidak baik dan tidak bijaksana. Padahal, sesuatu yang besar itu tidak mungkin ada, tanpa adanya yang kecil-kecil.

Dalam konteks ini, maka setiap kita hendaknya menjadi solusi bagi diri kita masing-masing (minimal), sebelum selanjutnya kita menjadi solusi bagi sebanyak-banyaknya ummat.

Untuk mewujudkannya, maka dalam melakukan pembinaan pribadi ini, S. Qamarulhadi (Membangun Insan Seutuhnya; 1986), menuliskan perlu adanya faktor agama sebagai landasan untuk menjaga keseimbangan eksistensi insan (baca: manusia-Pen) secara otentik. Tepatnya, Islam tidak menuntut orang kepada kepentingan-diri (pribadi-isme) sehingga timbul nafsu individualistis. Tetapi Islam mendorong orang untuk mengenal dan mendalami pribadinya individualitasnya, kepribadiannya kepada kesadaran Ummat Wahidah (kesatuan Ummat) dalam kesamaan derajat sebagai insan.

Berkait dengan usaha pemahaman akan diri pribadi setiap manusia, yang memang kadangkala susah untuk memahami dirinya sendiri daripada ‘memahami’ orang lain, menurut Prof. Dr. Winarno Surakmad M.Sc.Ed (1980), ada beberapa cara yang dapat membantu untuk memudahkan kita menerima dan memahami sendiri.

Pertama, ialah menemukan seseorang yang sudah matang, yang menaruh simpati, berpendirian stabil dan mau selalu mendengarkan kita. Dia tidak menjadi “juru nasihat”, akan tetapi akan membiarkan kita membicarakan tentang diri kita sendiri, perasaan-perasaan serta sikap kita terhadap kehidupan.

Kedua, ialah melaksanakan diskusi tentang perasaan-perasaan, masalah-masalah perseorangan, perkembangan pribadi dan sikap terhadap kehidupan dengan orang-orang yang merasa mempunyai minat dan masalah yang sama.

Sering setelah kita dengar ketakutan-ketakutan tersembunyi, kecurigaan-kecurigaan, kebimbangan-kebimbangan dan emosi-emosi dinyatakan oleh orang lain, kita lalu menyadari bahwa soal-soal ini serupa dengan yang kita hadapi sendiri. Dan karena kita melihat hal tersebut adalah ketakutan umum dan kebimbangan biasa bagi semua orang, sehingga kita mungkin tak akan merasa malu lagi mempunyai perasaan begitu. Akhirnya kita merasa mempunyai harga diri, walaupun kita mempunyai perasaan-perasaan tersebut.

Ketiga, ialah melihat motif-motif dasar yang tersembunyi pada orang melalui hasil karya sastra (terutama sastra Islami-Pen), kita meneliti perasaan-perasaan, pikiran-pikiran dan teknik-teknik penyesuaian orang melalui alat-alat ini. Dalam diri pelaku-pelaku cerita, kita mungkin menemui ciri-ciri yang juga kita punyai, tetapi yang dulu tidak kita akui atau sekurang-kurangnya tidak kita terima bahwa ciri-ciri itu adalah ciri-ciri kita sendiri.

Keempat, ialah dengan membaca buku-buku yang membahas masalah-masalah psikologi. Dengan cara ini diharapkan bahwa macam-macam tingkah laku manusia yang sebelumnya oleh pembaca dianggap luar biasa buruknya, tetapi setelah membaca buku psikologi mungkin dianggap dapat diterima sekarang. Dan dalam proses pemahaman tingkah laku manusia ini, si pembaca mungkin akhirnya dapat menerima dirinya dengan jujur.

Dengan adanya penerimaan diri sendiri itu, diharapkan ada ketenangan jiwa atau penyesuaian yang lebih baik. Dalam arti lain, setelahnya mengetahui akan potensi diri ini, kita diharapkan untuk selalu memperbaiki terhadap kekurangan-kekurangan yang dimiliki dan mempertahankan serta meningkatkan potensi positif yang telah kita miliki sebelumnya.

Membina Pribadi Sukses dan Solusi

Seperti disinggung di awal, bahwa faktor pribadi adalah pangkal tolak pendidikan diri sendiri, dan bertujuan kembali kepada persoalan pribadi, dengan mengintegrasikan relasi antara nafsani dan jasmani dalam kesatuan wujudnya. Hal ini berarti, membina pribadi adalah membina nafsin. Yakni membina abstraksi nafsaniyah dengan baik (berpikir, merenung, merasa, dll.), serta membina tingkah laku dan ucapan yang sesuai dengan tujuan nafsani itu.

Untuk mengembangkan pertumbuhan nafsaniyah ini, maka cara yang terbaik ialah dengan senantiasa berpatokan pada “Takhallaquu Bi Akhlaqillaah” (berakhlaqlah dengan akhlaq Allah). Artinya kita hendaknya menyatukan pandangan kepada kebesaran Allah dengan bulat, dan menumbuhkan sifat-sifat-Nya ke dalam seluruh gerak nafsaniyah (hakekat tauhid).

Konsepsi tauhid dalam Islam bermaksud menuntun orang untuk mengenal dan menyesuaikan penerapan nilai rendah dan nilai tinggi seorang pribadi dalam hidup ini, yang selaras dengan kehendak Allah di dalam mewujudkan ciptaan-Nya. Janganlah kita sebagai hamba hendak berlaku sombong terhadap Allah dengan tidak mentaati perintah dan larangan-Nya, sedang sebagai makhluk yang seharusnya mengatur dan menundukan alam ini, malahan kita meredusir harga diri dan merendahkan nilai pribadi sebagai “raja makhluk.” (S. Qamarulhadi; 1986: 220).

Berawal dari pembinaan pribadi dengan berpatokan pada akhlaq Allah, kemudian yang perlu ditata pada pribadi kita dengan tekun agar mencapai pribadi yang sukses dan sebagai solusi ialah harus memiliki dua syarat. Yakni iman dan ilmu. Dua syarat ini adalah mutlak, seperti dinyatakan dalam Alquran surat Al-Mujaadilah: 11, yang artinya: “…. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu, beberapa tingkat …..”

Pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, akan membuahkan hasil bukan hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan pada bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir.

Untuk itu, seharusnya ilmu pengetahuan adalah jembatan iman yang paling mantap. Tetapi nyatanya, ilmu saja tanpa iman, manusia akan merasakan kekosongan dalam hidupnya.

Kita tahu, ilmu itu garapannya otak. Sedangkan otak dengan segala dinding-dinding selnya semuanya adalah alami. Selama ia terbatas kepada alami saja, maka sejauh itu ia akan mengambang. Adapun iman itu garapannya hati, di sinilah tempat kepuasan dan kekuatan batin. Selain itu, iman juga merupakan pemberian Allah yang bersifat halus tapi mantap dan pasti.

Bagi kita, yang paling indah itu, bila ilmu sudah disenyawakan dengan iman, atau iman yang sudah dibarengi ilmu, maka keduanya akan memberikan kekuatan positif yang luar biasa bagi kehidupan ummat manusia.

Dalam hal ini, M. Ridwan IR Lubis dalam bukunya “Iman dan Sukses” (1985) menuliskan bahwa untuk kesuksesan hati dan otak diperlukan ketekunan. Dari sifat tekun yang melahirkan ilham ini, akan menyorot hati dan otak kita. Adapun untuk membangun dan mengembangkan suatu pekerjaan dengan tekun, maka diperlukan empat sikap mental.

1. Kerjakan menurut kemampuan.

Segala sesuatu haruslah dikerjakan menurut kemampuan kita, jangan kerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Karena hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2. Mengutamakan yang penting.

Setelah kita dapat mengerjakan sesuatu, maka hendaklah kita terlebih dahulu melakukan penyortiran. Pekerjaan mana yang harus didahulukan. Maka lakukan penilaian terlebih dahulu terhadap pekerjaan tersebut. Mana yang penting, perlu dan berguna.

3. Tetapkan pendirian.

Anda jangan mudah diombang-ambingkan oleh orang lain, sehingga membuat rencana menjadi buyar. Anda harus tetapkan pendirian untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.

4. Jangan berputus asa.

Tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah merupakan kekejaman Allah. Misalnya, kalau kita mendapati pekerjaan yang belum berhasil, maka kita harus bersabar. Karena kita harus yakin bahwa segala sesuatunya Allah sajalah yang amat mengetahui rahasia alam ini, termasuk rahasia dari ketidakberhasilan apa yang kita rencanakan. Untuk itu, kita tidak boleh berputus asa, karena itu tidak menyelesaikan persoalan. Sebaiknya segera kita mencari jalan keluar dari hal tersebut, walau sekecil apa pun.

Penutup

Manusia harus sadar betul bahwa esensi kehidupan ini terletak pada pembentukan semangat dan cita-cita untuk memelihara dan menegakan kepribadian yang kian meluas, sehingga kehidupan memperoleh daya mengembang dari dirinya sendiri beberapa alas kekuatan, seperti: memori intelektif, kecerdasan, keahlian, keteguhan hati, keikhlasan dan sebagainya, yang banyak membantu mengassimilasi kebiasaan dan perilaku kita.

Orang yang baik itu ialah orang yang selalu mencari jalan keluarnya setiap kali melihat/mendapat masalah sesuai dengan ridho-Nya (sebagai solusi). Bukannya menciptakan suatu masalah dan kita sendiri yang menjadi sumber masalah bagi masyarakat.

Sedangkan kesuksesan seseorang itu, pada hakekatnya adalah bagaimana setiap hari, waktu, saat, selalu berusaha memperbaiki diri dan menambah ilmu untuk menuju keridhoan Allah.

Akhirnya kita berdoa kepada Allah, agar kita selalu dibimbing dan diberi kekuatan untuk selalu memperbaiki diri setiap saat dan berbuat sesuatu yang terbaik bagi diri dan sebanyak-banyak ummat serta sesuai dengan kehendak-Nya. Amin.*** (BDG, 14/9/2001).

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,
http://www.miqra.blogspot.com.
WWW.ARDADINATA.COM